Pada awalnya,
pencatatan transaksi perdagangan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dicatat
pada batu, kulit kayu, dan sebagainya. Catatan tertua yang berhasil ditemukan
sampai saat ini masih tersimpan, yaitu berasal dari Babilonia pada 3600 SM.
Penemuan yang sama juga diperoleh di Mesir dan Yonani kuno. Pencatatan itu belum dilakukan secara sistematis dan
sering tidak lengkap. Pencatatan yang lebih lengkap dikembangkan di Italia
setelah dikenal angka-angka desimal arab dan semakin berkembangnya dunia usaha
pada waktu itu. Perkembangan akuntansi sejalan dengan perkembangan organisasi
dan kegiatan suatu usaha, karena kehadirannya memerlukan pencatatan sehingga
seluruh kegiatan akan tergambar di dalamnya.
Pada abad ke-15
seorang ahli Matematika berkebangsaan Italia Lucas Paciolo telah menyusun buku
tentang akuntansi dengan judul “Tractatus de Cumputis at Scritorio” buku ini
berorientasi pada pembukuan berpasangan. Pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) mencatat kedua
aspek transaksi sedemikian rupa yang membentuk suatu pemikiran yang berimbang.
Pembukuan (bookkeping) mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 1642, tetapi jejak yang jelas baru ditemui pada pembukuan Amphion
Society yang
berdiri di Jakarta sejak tahun 1747. Perkembangan akuntansi yang mencolok baru
muncul setelah undang-undang mangenai tanam paksa dihapuskan tahun 1870. Dengan dihapuskannya tanam paksa, kaum
pengusaha Belanda banyak bermunculan di Indonesia untuk menanamkan modalnya.
Sistem yang dianut oleh pengusaha Belanda ini adalah seperti yang diajarkan
oleh Luca Pacioli.
Jika kita kaji sejarah
terutama sejarah Islam, sebenarnya pada awal pertumbuhannya sudah ada sistem
akuntansi. Akan tetapi, sayangnya literatur belum banyak menganalisis bagaimana
rupa eksistensi akuntansi pada zaman itu (± 570 Masehi). Seperti yang dikemukakan
oleh Russel (dalam Rosjidi, 1999) “Sebenarnya
orang-orang Italia dalam abad ke-14 baru menerapkan sistem pembukuan
berpasangan lengkap setelah terlebih dahulu digunakan oleh saudagar-saudagar
Moslem (Moslem Merchants).”
Pembukuan yang biasa dikenal dengan tata buku
merupakan tindakan pencatatan secara teratur dan sistematis tentang segala transaksi
keuangan dan segala akibat yang ditimbulkan oleh transaksi tersebut. Tata buku
ini hanya menyangkut kegiatan yang bertujuan untuk menyajikan informasi yang
berdasarkan pada data keuangan. Pada zaman kependudukan Belanda inilah banyak
pengusaha Belanda menerapkan sistem pembukuan. Sistem pembukuan Belanda dengan
konep sistem akuntansi lebih dikenal dengan sistem kontinental.
Revolusi indusrti di
Inggris pada tahun 1776 juga menimbulkan efek positif terhadap perkembangan
akuntansi. Pada tahun 1845 undang-undang perusahaan yang pertama di Inggris
dikeluarkan untuk mengatur tentang organisasi dan status perusahaan. Dalam
undang-undang tersebut, diatur tentang kemungkinan perusahaan meminjam uang,
mengeluarkan saham, membayar hutang, dan dapat bertindak sebagaimana halnya
perorangan. Keadaaan-keadaaan inilah yang menimbulkan perlunya laporan baik
sebagai informasi maupun sebagai pertanggungjawaban.
Dalam artikelnya,
Herbert (dalam Harahap, 1997) menjelaskan perkembangan akuntansi sebagai
berikut.
Tahun
1775 : pada tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single
entry maupun double entry.
Tahun
1800 : masyarakat menjadikan neraca sebagai laporan yang utama
digunakan dalam perusahaan.
Tahun
1825 : mulai dikenalkan pemeriksaaan keuangan (financial
auditing).
Tahun
1850 : laporan laba/rugi menggantikan posisi neraca sebagai laporan
yang dianggap lebih penting.
Tahun
1900 : di USA mulai diperkenalkan sertifikasi profesi yang
dilakukan melalui ujian yang dilaksanakan secara nasional.
Tahun
1925 : banyak perkembangan yang terjadi tahun ini, antara lain:
1. Mulai diperkenalkan
teknik-teknik analisis biaya, akuntansi untuk perpajakan, akuntansi pemerintahan,
serta pengawasan dana pemerintah;
2. Laporan keuangan
mulai diseragamkan;
3. Norma pemeriksaaan
akuntan juga mulai dirumuskan; dan
4. Sistem akuntansi yang
manual beralih ke sistem EDP dengan mulai dikenalkannya “punch card
record”.
Tahun 1950 s/d 1975 :
Pada tahun ini banyak yang dapat dicatat dalam perkembangan akuntansi, yaitu
sebagai berikut.
1. Pada periode ini
akunansi sudah menggunakan computer untuk pengolahan data.
2. Sudah dilakukan
Perumusan Prinsip Akuntansi (GAAP).
3. Analisis Cost
Revenue semakin dikenal.
4. Jasa-jasa perpajakan
seperti kunsultan pajak dan perencanaan pajak mulai ditawarkan profesi akuntan.
5. Management accounting
sebagai bidang akuntan yang khusus untuk kepentingan manajemen mulai dikenal
dan berkembang cepat.
6. Muncul jasa-jasa
manajemen seperti system perencanaan dan pengawasan.
7. Perencanaan manajemen
serta management auditing mulai diperkenalkan.
Tahun
1975 : mulai periode ini akuntansi semakin berkembang dan meliputi
bidang-bidang lainnya, perkembangan itu antara lain:
1. Timbulnya management
science yang mencakup analisis proses manajemen dan usaha-usaha menemukan
dan menyempurnakan kekurangan-kekurangannya;
2. Sistem informasi
semakin canggih yang mencakup perkembangan model-model organisasi, perencanaan
organisasi, teori pengambilan keputusan, dan analisis cost benefit;
3. Metode permintaan
yang menggunakan computer dalam teori cybernetics;
4. Total system review yang merupakan
metode pemeriksaan efektif mulai dikenal; dan
5. Social accounting manjadi isu
yang membahas pencatatan setiap transaksi perusahaan yang mempengaruhi
lingkungan masyarakat.
Pada masa kependudukan
Jepang, Indonesia masih menggunakan sistem kontinental karena banyak pengusaha
tersebut yang menggunakan tenaga Belanda. Lalu Akuntansi sangat luas ruang lingkupnya, diantaranya
teknik pembukuan. Setelah tahun 1960, akuntansi cara Amerika (Anglo-Saxon)
mulai diperkenalkan di Indonesia. Jadi, sistem pembukuan yang dipakai di
Indonesia berubah dari sistem Eropa (Kontinental) ke sistem Amerika
(Anglo-Saxon). Indonesia menggunakan system Amerika yaitu Anglo-Saxon karena
dianggap lebih praktis dan efesien.
Fungsi pemeriksaan (auditing) mulai dikenalkan di Indonesia tahun
1907, yaitu sejak seorang anggota NIVA, Van Schagen, menyusun dan mengontrol
pembukuan perusaan. Pengiriman Van Schagen ini merupakan cikal bakal dibukanya
Jawatan Akuntan Negara (GAD – Government Accountant Dients)
yang resmi didirikan pada tahun 1915. Akuntan public pertama adalah Frese &
Hogeweg, yang mendirikan kantornya di Indonesia tahun 1918.
Dalam masa kependudukan Jepang,
Indonesia sangat kekurangan tenaga di bidang akuntansi. Dalam masa ini, atas
prakarsa Mr. Slamet, didirikan kursus-kursus untuk mengisi kekosongan jabatan
tadi dengan tenaga-tenaga Indonesia. Pada tahun 1874, hanya ada seorang akuntan
berbangsa Indonesia, yaitu Prof. Dr. Abutari. Di Indonesia, pendidikan
akuntansi mulai dirintis dengan dibukanya jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia tahun 1952. Pembukaan ini kemudian diikuti Institut Ilmu
Keuangan (sekarang Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tahun 1960 dan
Fakultas-fakultas Ekonomi di Universitas Padjadjaran (1961), Universitas
Sumatera Utara (1964), universitas Airlangga (1962), dan universitas Gadjah
Mada (1964).
Organisasi profesi
yang menghimpun para akuntan Indonesia bediri 23 Desember 1957. Organisasi ini
diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dengan pendiri lima orang akuntan
Indonesia. Profesi akuntan mulai berkembang dengan pesat sejak tahun 1967. Pada
tahun itu juga dikeluarkannya undang-undang modal asing yang kemudian disusul
dengan undang-undang penanaman modal dalam negeri tahun 1968 yang merupakan
pendorong berkembangnya profesi akuntansi. Setelah krisis ekonomi Indonesia
tahun 1997, peran profesi akuntan diakui semakin signifikan mengingat profesi
ini memiliki peranan strategis di dalam menciptakan iklim transparansi di
Indonesia.
No comments:
Post a Comment